Feeds:
Posts
Comments

Pintu rumah sufi kepercayaan raja, Salim Chisti. Seluruh rumahnya dari marmer.


Dengan teman jalan baru yang lebih menyegarkan, kami pun semangat melanjutkan perjalanan ke Fatehpur Sikri di negara bagian Uttar Pradesh. Meskipun kini dijuluki kota hantu karena sepi, dulunya pernah jaya saat Kaisar Akbar dari dinasti Mughal membangun istananya tahun 1570. Istana megah ini menjadi tempat tinggal sang raja bersama 3 istrinya, terdiri dari perempuan Muslim, Kristen dan Hindu. Setiap istri dibuatkan istananya masing-masing yang semuanya indah dan mewah. Di dinding kamar istri-istrinya itu konon dulu berhiaskan berlian dan batu-batu permata lain sehingga memantulkan sinar matahari warna-warni. Wiii… saya sih nggak kebayang betapa silaunya mata kalau tembok kamar saya ditempeli berlian. Alkisah menyebutkan, istri Hindu-lah yang paling disayang karena hanya dia yang memberinya putra mahkota.

Sebagaimana di tempat-tempat yang ramai turis di India, sejak area parkir kita diserbu pria-pria yang mengaku sebagai official guide. Mereka menunjukkan tanda pengenal sebagai guide resmi yang aspal, tampak asli tapi palsu, dan menawarkan jasa dengan imbalan 250 rupee (sekitar 50 ribu rupiah). Seorang bapak tua berambut oranye pun menawarkan jasanya pada saya. Iseng saya tawar seharga 100 rupee, karena saya sudah menggoogle semua informasi tentang tempat ini sehingga nggak terlalu merasa butuh tour guide. Awalnya dia menolak, tapi lama-lama dia menurunkan harga sendiri hingga mau 100 rupee. Maka jadilah dia mengawal kami berkeliling istana selama 1 jam.

Diwan i Khas tempat raja meeting dg menteri2nya, gerbang istana & guide kami

Saya akui, berbagai istana dan benteng peninggalan dinasti Mughal ini luar biasa megahnya. Bangunannya kokoh, bertahan ratusan tahun lengkap dengan semua ukiran dan ornamennya yang indah. Tapi setiap keluar dari istana-istana megah ini yang terlihat adalah kemiskinan dimana-mana. Spontan saya ingat Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit di Kuningan, Sudirman dan beberapa area Jakarta pun dibaliknya acap menyimpan deretan rumah-rumah kumuh. Bentuk modern dari kesenjangan sosial yang ada sejak ratusan tahun lalu?

Kembali ke Fatehpur Sikri, di penghujung tour-nya si guide membawa kami mengunjungi 2 orang pria yang menggelar dagangan souvenir dari marmer ukir. Seperti umumnya pedagang di India, mereka gigih banget membujuk kami membeli dagangannya. Sebuah tempat lilin bulat seukuran telur kasuari dari marmer ukir dijual seharga 800 rupee, ditawar mentok di harga 500 rupee. Kami beli karena kasihan. Eh…. ternyata di area parkir ada deretan toko suvenir yang menjual barang serupa dengan harga 200 rupee saja!! Jadinya belanja kemahalan gara-gara guide berambut oranye itu. Huh!

Slogan pariwisatanya sih keren, Amazing Heritage, Grand Experiences. Tapi kalau tour guide aja kelakuannya kayak gitu semua, dimana grand experiences-nya?

Kap lampu telur Kasuari dari marmer, toko souvenir & jalanan sekitar Fatehpur Sikri

Sisa hari kami habiskan dengan meneruskan perjalanan ke Jaipur, sambil sesekali berpapasan dengan onta atau kawanan sapi di tengah jalan. India ini bagaikan surga bagi binatang. Onta, sapi, kerbau, kambing, babi, tupai, gajah hingga monyet bisa dengan bebas berkeliaran di jalanan dengan damai. Nah, di rute ini sangat tidak disarankan membuka jendela mobil. Sepanjang jalan banyak warga menjemur lembengan bundar seukuran piring makan yang ternyata adalah kotoran kerbau untuk dijadikan bahan bakar. Aromanya? Syedaaaap…

Besok cerita tentang Jaipur, pedagang-pedagang yang bulus dan tips shopping di India.

Incredible India: Agra

Ini bukan istana, cuma pintu gerbang ke istana :)

Dari New Delhi besok paginya kami berangkat ke Agra naik mobil sekitar 5 jam. Di jalanan Delhi maupun Agra, mobil-mobilnya jarang yang pakai kaca spion utuh! Banyak sekali mobil yang spion kirinya hilang atau dilipat. Nggak heran, lalu lintas yang macet dan semrawut bikin mereka malas pasang spion samping. Termasuk supir kami. Dan perlu nyali untuk nyetir di pusat kota Delhi, kelakuan sopir-sopir Jakarta sih masih jauh lebih sopan.

Kami langsung ke Agra Fort, benteng kukuh nan indah yang dibikin Raja Akbar tahun 1573 untuk melindungi ibu kota kerajaannya. Cucu Raja Akbar ini kemudian membangun Taj Mahal sebagai tanda cinta pada Mumtaz istrinya yang dimakamkan tepat dibawah kubah utama istana marmer itu. Ironisnya, 8 tahun terakhir hidup sang raja, dia ditawan putranya sendiri di dalam benteng Agra dan hanya bisa menatap Taj Mahal dari menara benteng yang terpisah jarak sekitar 2,5 km.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah harga tiket masuk ke berbagai istana, monumen atau museum. Turis lokal yang bertampang India dan berbahasa Hindi harga tiketnya 10-20 rupee saja, sementara turis asing yang beli tiket pakai bahasa Inggris kena harga antara 250-750 rupee! Gila kan beda harganya! Ya tapi mumpung ke India sih, jadi kami tetap beli tiket masuk berbagai istana dan monumennya. Mungkin ini usaha pemerintah India agar warga lokal semangat berkunjung ke situs-situs peninggalan sejarah mereka. Di semua tempat itu, turis lokalnya selalu jauh lebih banyak lho!

Agra Fort, Gate to Taj Mahal & inside Taj Mahal. Krn kompleksnya luas banget, ke gerbangnya naik mobil unyu itu.

Kami datang pas puncak musim dingin di India bagian utara, yang artinya juga musim kawin. Dalam sehari ratusan pasangan menikah, dan diarak di jalan. Malam itu saja kami berpapasan dengan 2 rombongan pengantin pria yang diarak ke rumah calon istrinya. Jelas dong kami spontan berentiin mobil, melipir dan ikutan joget di dalam arak-arakan itu!

Pengantin pria diarak puluhan orang sambil jejogetan

Nah, sehabis jogetan inilah supir kami mendadak ngambek. Dia ngomel nggak karuan karena malam ini kami makan tanpa pamit kepadanya. Saya minta maaf dan berjanji mentraktirnya makan sesampainya di motel. Eh, dia tetep ngomel, malah ngomongnya makin kasar, lalu nyasar mencari jalan balik ke motel dan menyalahkan saya atas nyasarnya ini! Padahal jalanan gelap, kita entah berada dimana, kanan-kiri hanya kebun mustard. Jujur saya takut, apalagi saya bawa anak. Sambil mencoba kalem, diam-diam saya siapkan penyemprot serangga genggam yang selalu saya bawa in case of emergency. Pak supir tetep ngomel aja dan baru ketemu jalan balik ke motel setelah saya telfon managernya. Edan!

Sampai di motel, saya sekali lagi menelfon managernya, menjelaskan kronologis peristiwa malam itu dan minta ganti supir besok paginya. Sang manager belum bisa memastikan ketersediaan supir pengganti mengingat jarak Delhi-Agra yang jauh. Kami pun tidur dalam kegelisahan.

Besoknya kami sarapan dengan suasana hati yang masih sangat tidak enak dan kuatir dengan sisa perjalanan ini kalau masih harus pergi dengan supir emosional itu.

Tiba-tiba masuklah seorang pemuda tampan tinggi besar ke ruang makan sambil bertanya, “May I speak to Swastika?”… Kemudian hening.

Wih, saya pikir ada artis muda Bollywood yang nyasar ke motel kami… ternyata dialah yang menggantikan supir lama kami! Woohooo!!!

Arun. Onta yang bebas melenggang di jalanan

Namanya Arun, baru lulus kuliah tahun 2007, dia datang ke Agra naik super fast train jam 5 pagi dari Delhi atas perintah langsung sang pemilik travel. Wow! Maka lanjutlah perjalanan kami ke Fatehpur Sikri bersama pemuda yang lebih tampan dari Shahrukh Khan ini. Setelah saya tanya, Arun mengakui biasanya dia lebih sering melakukan ‘office job’ di perusahaan travel itu.

Drama belum berakhir. Sebelum masuk pintu tol, Arun menghentikan mobilnya dan bilang ada orang yang mau bicara dengan saya. Wah, apa lagi nih… begitu saya pikir. Ternyata sang pemilik travel menyempatkan diri menemui kami dan minta maaf atas insiden supir semalam. Pemilik travel itu bilang, “I promise the rest of your journey will be smooth, as you’re now in a good hand. He’s my own son.” Katanya sambil menunjuk ke arah Arun. Alamaaaak… ternyata disupiri yang punya travel!

Besok cerita tentang terjebak rayuan maut seorang tour guide.

Incredible India

[/caption]
Rasanya nggak berlebihan kalau saya mengutip slogan iklan pariwisata India itu, karena memang begitulah yang saya rasakan selama 8 hari menapaki tanah berdebu negeri Amitabh Bachchan itu. Jujur saja, kesan pertama saya di India adalah berdebu dan jorok. Baru jalan kaki beberapa langkah keluar hotel di New Delhi, saya nyaris menginjak tahi anjing di trotoar! Eeeww… Tapi setelah melihat sisi lain India di Agra, Jaipur dan Pushkar, saya pun terpesona dengan warna-warninya negeri penghasil mustard ini.

Kami tiba 13 Januari lalu, pas puncak musim dingin di New Delhi. Tapi ya sedingin-dinginnya India, baru level kulkas, belum di level freezer alias berkisar antara 4-18 derajat celcius. Belum bikin beku dan masih enak jalan pagi keliling hotel di Karol Bagh.

Nah, pas jalan pagi ini kami seorang supir tuk-tuk (semacam bajaj warna kuning hijau) menawarkan mengantar ke pasar dengan ongkos 20 rupee PP. Karena murah dan kami memang perlu beli memory card untuk camera, maka kami mau. Ternyata kami ditipu! Si supir menakuti-nakuti kami, membawa kami ke kantor turisme setempat dan ujungnya minta dibayar 800 rupee (140an ribu rupiah). Cih! Tentu saja saya ogah. Saya minta diantar balik ke hotel, saya bayar setengahnya sambil nyumpahin bajajnya ketabrak truk.

Masjid Jami New Delhi
Sebel sama supir bajaj itu terlupakan sudah setelah dari situ kita jalan ke Old Delhi, bagian kota tuanya New Delhi dengan Masjid Jami di tengahnya. Masjid ini megah sekali, dengan tempat wudhu berupa kolam besar dan ribuan burung merpati hidup bebas di pelatarannya.

Merpati hidup bebas di pelataran masjid, termasuk bebas eek sembarangan :)

Oleh teman India yang menemani, kami diminta hanya lihat-lihat di dalam kompleks masjid. Tapi dasar badung, kami impulsif keluar kompleks masjid karena melihat ada pasar yang warna-warni. Dan persis di balik tembok masjid puluhan orang-orang tak berumah menggelar koran atau plastik, beberapa orang perempuan mencuci baju dan perabot makan di seember air yang mulai keruh, dan seorang ibu merawat bayinya begitu saja di bawah terik matahari Delhi.
Di malam hari suhunya sekitar 5 derajat celcius. Wonder how they survive...


Di ujung lorong masjid yang dipenuhi homeless people itulah terdapat pasar rakyat yang tadi kami intip. Jualan mereka rupa-rupa, dari kacang goreng, pop corn tradisional, perabot rumah tangga, jam water proof sampai beha. Dan terlihat sederet penjual beha, semuanya bapak-bapak bertampang garang! Calon pembeli pasti malu kalau mau tanya nomor yang cocok, apalagi kalau mau coba :)

Membeli barang di pasar semacam ini, model tawar-menawarnya macam di Tanah Abang lah. Langsung setengah harga, dan jangan terlihat beneran tertarik pada barangnya. Saya disini lebih tertarik memfoto para pedagang makanan, meski ngeri untuk membeli dan memakannya. Saya nggak beli apa-apa selain mainan plastik setelah Sabai merengek minta dibelikan. Toh harganya cuma 35 rupee (sekitar 7 ribu rupiah, yang kalau di Mangga Dua 15 ribuan).

So, how does New Delhi sound to you so far?
Besok lanjut cerita ttg supir yang lebih ganteng dari Sakhrukh Khan :)

Badannya bagai dipahat!

Tanggal 11 January kemarin saya menikmati konser musik dan tari yang luar biasa indah! Boleh dibilang yang paling mempesona dalam hidup saya. Perpaduan yang memukau antara alat musik tradisional yang dimainkan anak-anak muda dengan kemasan modern. Ceritanya dalam rangka launching portal budaya Kratonpedia.com di Obsat. They’re simply magical!

Pemusiknya adalah Plenthe Percussion yang biasa main Wayang Groove dari Solo, Jawa Tengah. Selain main musik etnik dengan kemasan modern, mereka juga punya penari jagoan bernama Luluk yang sangat fasih meliuk dan menggulung tubuh indahnya. Plenthe Percussion kali ini berkolaborasi dengan Serieus, band asal Bandung yang tampil dengan vocalis baru bernama Boim. Boim ini suaranya maaaak… keren abis!

Semoga bisa nonton pentas Wayang Groove dan Plenthe Percussion lagi, they’re awesome! Terima kasih KratonPedia yang telah menghadirkan Budaya Dalam Cinta, good luck untuk portalnya! Foto-foto dijepret oleh @millyshafiq dan @kratonpedia

My Top Notch In 2011

Creating Gabriel Omar
Saya menyebutnya creating dan bukan writing karena memang Gabriel Omar ini bukan sekedar menulis skenario film dan komiknya, tapi menciptakan dunia baru, dunia-nya Gabriel Omar, sebuah kepingan Indonesia di masa depan. Ini bukan skenario layar lebar pertama saya, tapi sangat mungkin ini akan jadi skenario yang pertama kali dirilis filmnya. Iya, tahun 2009 lalu sebuah skenario saya diproduksi sampai selesai shooting tapi filmnya nggak jadi rilis karena dana paska produksi urung didapat.
Jadi, fingers crossed, Gabriel Omar dalam film Kita Pasti Menang yang disutradarai Andibachtiar Yusuf ini menghiasi layar bioskop di penghujung tahun yang sama. Komiknya? Jangan tanya saya kapan akan tersedia di toko buku, ini baru jadi beberapa halaman. Novelnya sih lebih dulu terbit dengan judul Menerjang Batas, diretas oleh Estu Ernesto.

Kicking Off Digiacts
Bertemu dengan Oettie Notosapoetro, lalu mengajak Venus dan beberapa teman lain, jadilah kita kerja bareng memeriahkan dunia perdigitalan Indonesia. Ini sebetulnya berawal dari hobi blogging, tweeting, dan (masih) facebooking yang kita seriusin jadi kerjaan. Sebagai bendera, kami memang masih newbie. Tapi sebagai pelaku media sosial, beberapa teman sampai menjuluki kami social media evangelists. So, bring it on, baby!

Swimming!
Hahaha… kesannya cupu banget memasukkan kegiatan berenang rutin disini. Tapi iya lho, saya mulai berenang rutin setelah lama sekali nggak olah raga sejak melahirkan si kecil, and it feels damn good! Bermula dari sebuah kunjungan ke chiropractor untuk cek tulang punggung bawah yang sering nyeri, mengingat tahun 2004 saya pernah jatuh menghantam tebing waktu rock climbing. Ternyata obatnya sederhana: banyak minum air putih, berenang teratur dan terus ber-yoga. Semoga tahun ini berkesempatan diving lagi, malu sama SIM diving yang udah bertahun-tahun cuma jadi pengisi laci.

ABG Cantik & Sapaan Pertamanya
Ah, tiada terkira rasanya saat pertama kali melihat si kecil pakai seragam sekolah. Masih TK sih, tapi di mata saya gayanya udah kayak ABG sehingga kami kadang memanggilnya ‘Hey ABG!’ dan dia menoleh! Lalu adiknya makin banyak omong, dan kini setiap pagi selalu memanggil saya “Buuuuu…” dengan nada diayun naik. Setelah makin gondrong, barulah kelihatan ternyata si adik berambut ikal. Tadinya saya nggak kebayang bakal punya anak berambut ikal. Hehehe.. My precious ones!

Let’s see what 2012 brings, but for sure it’s gonna be an awesome year!

2011 in review

A summary of 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 8,800 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 3 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Cerita Panji

Sebelum melanjutkan membaca posting ini, coba luangkan waktu sejenak saja untuk mengingat, kapan terakhir kali kamu menyimak dongeng atau cerita rakyat yang kamu sukai?
Continue Reading »

Kali ini saya berterima kasih setulus hati pada Blitz megaplex karena menghadirkan film keren Warrior ke Indonesia. Padahal saat masuk bioskop saya tidak berharap akan suka film ini. Film tinju gitu bok… Bakal ngeliat cowok jotos-jotosan di dalam ring nih! Begitulah kira-kira ekspektansi awal saya. Rating di IMDB yang 8.3-lah yang meyakinkan saya perlu nonton film ini, dan harus di bioskop. Continue Reading »

Sayangi Kakimu!

Yuk tengok ke bawah dan lihat kaki kalian sekarang! Ya, lihatin baik-baik sepasang kakimu… pakai alas kaki apa? Sendal, sepatu, atau yang lain? Gimana rasanya memakai alas kaki yang sekarang ini, nyamankah?

Buat saya kenyamanan sepasang sepatu itu maha penting. Jangan sampai kaki lecet pas pakai sepatu baru. Niatnya mau gaya, malah sengsara. Jadi saat beli sepatu biasanya banyak yang kudu dipikirin, bahkan lebih rumit dari pada mikirin negara… *lebay Continue Reading »

Yuhuuu warga Bicara Film, 

Jangan lupa mulai hari ini sampai Sabtu 24 September datang dan ikuti acara Bicara Film di Social Media Festival di fX Mall, Jl Jend Sudirman, Jakarta. Acaranya GRATIS total! Silakan datang, ajak teman-teman dan tweet up acara ini.

Continue Reading »

Udah berapa ajakan buka puasa bersama yang kamu datangi? Memasuki minggu ke-3 bulan puasa, ajakan bukber datang silih berganti, dan kemarin termasuk yang spesial. Biasanya kan kalau buka puasa menunya kolak, es buah, lalu nasi dan lauk berkalori tinggi macam masakan Padang. Terus makannya kayak ‘balas dendam’ dan sesudahnya begah kekenyangan sampai takut garis pinggang melar. Sounds familiar, uh?

Continue Reading »

Kost Di Vienna


Saya dan Ella, saat stuck di jalanan protokol Jakarta yang nggak mempan aturan three-in-one:

E: Gila ya Jakarta…. Macetnya itu lho, nggak pernah habis!
S: Terus? Mau pindah ke Wamena?
E: Kerja apa di Wamena?… Ternak Kasuari? Ya nggak lah! Tapi beneran deh, gue udah gak tahan sama macetnya Jakarta. Jadi pengin nge-kost, biar deket kantor.
S: Elo yang super sibuk itu mau ngekost? Bwahaha… bisa kayak kapal pecah kamar lo.
E: Kan bisa gaji pembokat.
S: Percaya aja gitu orang lain ngebersihin kamar lo, sementara elo-nya kerja?
E: Iya ya… Continue Reading »

High school reunion should be a happy moment. But mine was a heart breaking. Saya kaget banget waktu di sebuah reuni, seorang teman menunjukkan foto teman sekolah kami yang sedang sakit dan cukup parah. Teman yang dulu gagah itu, kini badannya kurus kering digerogoti penyakit. Jangankan bekerja, untuk sekedar berjalan kaki dan mengunyah makanan saja kini jadi perjuangan luar biasa baginya. Continue Reading »

I have always wanted to become a designer. Ya, itu salah satu impian masa kecil saya yang sekarang seperti menguap bersama embun pagi di pucuk helai rumput teki. Waktu masih SD saya suka sekali melihat-lihat gambar sketsa desain busana di majalah, lalu menggambar putri-putri dengan gaun mekar ala Cinderella, lengkap dengan interior kamar mereka. Continue Reading »

Judul dan poster film ini menggelitik saya untuk melangkahkan kaki ke bioskop, mengharapkan hiburan selama 90 menit bersama seorang bocah usia 4 tahun yang sudah melahap puluhan film di bioskop, mulai dari film anak-anak animasi, live action hingga film dokumenter. Seperti film-film Alenia sebelumnya, Serdadu Kumbang mengeksplorasi dunia anak-anak dengan setting salah satu daerah cantik negeri ini. 

Dibuka dengan adegan balapan kuda yang ditunggangi 2 orang joki kecil, harapan saya langsung melambung ingin menyaksikan serunya pacuan kuda dan pergelutan si joki cilik dalam memenangkan sebuah balapan. Namun jauh panggang dari api, nyaris sepanjang film kami dicekoki ceramah pendidikan dan betapa bobroknya sistem pendidikan di Indonesia. Kisah si joki kecil hanyalah entry poin yang tidak diolah lebih dalam. Sayang sekali.

Continue Reading »

Festival Film Solo 2011

 

Meneruskan posting sebelumnya tentang Festival Film Solo, ada tiga film yang paling berkesan bagi saya. Tiga film pendek ini secara artistik cantik, ceritanya kuat dan berhasil menjadi tontonan yang menyenangkan (khusus untuk Marni, menegangkan). 

Continue Reading »

festival film solo

Warga Solo dan sekitarnya saat ini sedang dimanjakan oleh sekelompok anak muda yang dengan gagah berani menggelar festival film secara independen, dari tanggal 4 hingga 7 Mei. Sebanyak 169 film fiksi pendek dikirimkan dari berbagai penjuru tanah air untuk mengikuti seleksi dalam Festival Film Solo 2011, edisi perdana festival yang rencananya akan dilakukan setiap tahun ini.

Continue Reading »

“I wanna make you happy on this Saturday night…” alunan suara Brett Anderson masih prima seperti ketika mereka menggelar konser di Jakarta delapan tahun silam, dan penonton yang datang berpasangan pun saling berangkulan sambil bergoyang pelan. Sesuai judul lagunya, Suede, band alternative rock asal Inggris ini memang tampil pada Sabtu malam lalu sebagai puncak konser Live & Rockin’ yang disponsori oleh Blackberry.

Sejak muncul di panggung jam 22.00 Brett Anderson langsung beraksi dengan gaya khasnya yang menurut saya…ehm….seksi! Terlihat jelas mereka sangat antusias tampil, mungkin karena sudah lama absen dari panggung konser. Lagu demi lagu mereka hajar tanpa jeda, hingga menjelang akhir konser barulah Brett menyapa penonton. Brett berkali-kali bilang, “I thank you all our loyal fans…” Jadinya dia kayak sangat terharu gitu, mereka punya fans setia yang memenuhi konsernya di Jakarta. Cuma bedanya, kalau 8 tahun lalu nyaris semua penontonnya hafal lirik lagu mereka dan nggak putus ikut nyanyi bareng, hal yang tidak terulang di konser kali ini. Continue Reading »

Ancaman

Kemarin malam, pas malam valentin itu, saya makan sendirian di sebuah restoran sederhana di dalam mall sambil menanti macet sedikit reda. Valentin dan saya makan malam sendirian. Sedih? Nggak juga sih. Dari jaman SMA dulu saya sudah biasa makan atau nonton bioskop sendirian… hehehe…

Continue Reading »

poster girl with dragon tattoo

Film Swedia ini menarik perhatian publik seluruh dunia berkat plotnya yang cukup unik dan penampilan si gadis gothic yang seluruh permukaan punggungnya dipenuhi tattoo naga berukuran raksasa. Cerita dibuka dengan kisah Mikael, seorang wartawan yang menginvestigasi kasus penyelewengan finansial sebuah perusahaan besar. Namun Mikael dijebak, data-datanya diubah hingga dia harus masuk penjara. Kasus ramai dibicarakan oleh media. Diam-diam ada seorang gadis gothic bernama Lis yang menyadap komputer Mikael termasuk semua datanya.

Continue Reading »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.